Selasa, 17 Agustus 2010

CURHATAN SEORANG ASDOS (Bag.1)

Seringkali tidak disadari oleh para asisten bahwa penampilan mereka menjadi contoh bagi adik-adik praktikannya. Ketika mereka mengajar, ada teladan yang disampaikan, bukan hanya sekedar materi praktikum yang harus selesai dipresentasikan dalam waktu 120 menit. Lebih dari sekedar materi, mereka juga menyampaikan nilai-nilai yang mereka anut, prinsip yang mereka pegang, kebiasaan yang membangun mereka, dan bahkan cara berpikir yang membuat mereka menghasilkan solusi dari permasalahan.


Apa jadinya ketika para asisten dosen (asdos) tidak menyadari itu semua, sehingga melihat profesi asisten adalah peluang mendapatkan uang, popularitas, kedekatan dengan dosen, koneksi, fasilitas lebih dan kesempatan kelihatan lebih pintar daripada yang diajar?




Ya.. mereka akan mengajar sekenanya. Anggap enteng bahan praktikum. Buat soal pada detik-detik terakhir sehingga solusinya tak disadari melebihi cakupan materi yang mereka sudah sampaikan. Datang sekenanya, kalau terlambat pun tanpa ada rasa salah karena status asdos jadi tameng pembenaran. Presentasi asal cuap-cuap, gak masalah yang mendengar mengerti atau tidak yang penting presentasi sudah selesai. Penampilan seketemunya: kaos oblong sandal jepit pun jadilah.. ASISTEEEENNNNN. Hah!! Sedihnya!! Alasannya klasik, yang penting ilmunya bukan penampilannya. Begitulah asdos-asdosku dulu. Menyedihkan T_T

Apa guna otak pintar tak tahu santun? Apa guna kemampuan tanpa EQ?

Jadi ingat asisten-asisten di sinetron-sinetron. Mereka tergambarkan seperti kakak sendiri. Tempat bertanya nomor satu, karena takut tanya pada dosen. Tempat berkeluh kesah dan curhat. Mereka dihormati, karena itu mereka populer. Ada asisten favorit karena murah hati, perhatian, sabar, dan mengajarnya bersaing dengan dosennya [kadang malah lebih bagus dari dosennya]. Mereka tampil lebih dewasa dengan penampilan formil, dan datang tepat waktu. Mereka saling menghargai sesama asisten. Ketika mereka marah, itu karena mereka punya alasan untuk membangun kami. Persiapan mereka tidak main-main. Uang di jaman dulu gak seberapa. Ada yang naik sepeda, ada yang bajunya hanya itu-itu saja, ada yang bercokol di lab lebih lama dari lain karena tidak punya komputer sendiri untuk persiapan. Lebih lagi, mereka tak pernah kehabisan kata-kata untuk beri apresiasi atas hasil kerja praktikannya dan memberi semangat ketika ada yang ketakutan dengan monster pemrograman. Di luar jam praktikum pun, mereka masih mau menjawab pertanyaan, dan beri solusi di tengah-tengah perjuangan akademik mereka yang lebih berat.

Masih ada enggak ya semangat dan perilaku seperti itu? Mungkin masih ada harapan. Mereka tidak melakukan mungkin karena tidak menyadari, mungkin karena tidak tahu, dan mungkin karena tidak mendapat contoh. 






*)Penulis adalah Mahasiswa semester 7 dan Asisten dosen di Jurusan Ilmu Komputer, FMIPA - UNPAK
print halaman ini